Selasa, 12 Desember 2017Ki Slamet, Satu-satunya Dalang Sawahlunto - Kabarita.co | Situs Berita Terpercaya SawahluntoKabarita.co | Situs Berita Terpercaya Sawahlunto
Ki Slamet Carito

Ki Slamet, Satu-satunya Dalang Sawahlunto

SAWAHLUNTO – Profesi sehari-harinya pedagang bakso, keliling dari satu rumah ke rumah lainnya, di kawasan Kubang Sawahlunto. Namun di balik itu semua, pria kelahiran Karang Anyar Solo itu merupakan ‘pewaris’ tunggal pewayangan di ‘Kota Arang’.

Percaya atau tidak, tanpa pria 21 Agustus 1970 itu, dunia perwayangan Sawahlunto, bukanlah apa-apa. Betapa tidak, Ki Slamet Carito merupakan satu-satunya Dalang, yang mementaskan berbagai cerita lama Jawa di kota bekas tambang batu bara itu.

Setidaknya sejak menjadi Dalang, hingga hari ini Slamet telah menguasai lebih dari 200 cerita wayang Jawa. Meski demikian, ketika pementasan Slamet harus membawakan cerita sesuai dengan permintaan yang punya hajatan. “Untuk cerita, tentu sesuai dengan mereka yang punya hajatan. Kita menyesuaikan dengan permintaan. Biasanya, kita butuh waktu persiapan selama satu pekan,” ujar Slamet.

Jika ada yang minta tampil, Slamet langsung berhenti berjualan bakso keliling. Ia fokus mempersiapkan diri sebagai Dalang. Bukan hanya tentang cerita yang akan ditampilkan, namun ada ritual yang musti dilalui.

Baginya, untuk menjadi Dalang persiapan yang musti dilakukan secara lahir dan bathin, yang sulit untuk diungkapkan secara detail. Agaknya, hal itu pula yang membuat sangat jarang ada orang yang berkeinginan menjadi dalang.

Menjadi Dalang, memang membutuhkan fisik dan spiritual yang kuat. Dalam sekali pementasan, dengan cerita yang panjang, Dalang harus tampil non stop, setidaknya tujuh jam tanpa henti. Dalam pementasan yang biasanya dimulai selepas isya dan berakhir menjelang subuh, meski tampil non stop, seorang Dalang hanya mengkonsumsi air putih, paling banyak dua gelas, tanpa makan nasi.

“Jika dibilang berat, memang sangat berat. Namun untuk orang-orang yang ikhlas, menjadi Dalang itu sebuah rahmat dan anugerah yang liar biasa dari Allah SWT. Karena tidak sembarang orang yang mampu dan mau melakoninya,” ungkap Slamet.

Menjadi seorang Dalang, harus menjadi dan menguasai banyak banyak hal. Mulai dari berpuasa, zikir, menguasai aksara Jawa, serta yang tidak kalah pentingnya memiliki bermacam suara. Khusus untuk suara, setidaknya harus menguasai lima suara. Mulai dari suara perempuan, pujangga, raksasa, raja, patih, serta ditambah dengan suara masyarakat lainnya.

Tidak hanya itu, untuk tampil dalam pementasan, juga dibutuhkan ritual yang diatur sedemikian rupa semenjak dulunya. Mulai dari mandi, proses pemakaian pakaian, hingga berangkat, yang tidak bisa sembarangan dilakukan.

Bagi Slamet, menguasai ilmu perdalangan, berarti mendalami makna kehidupan manusia yang sebenarnya. Karena, wayang menceritakan kehidupan manusia yang sebenarnya.

Itulah sebenarnya yang membuat perwayangan sangat pantas untuk ditonton dan dipelajari masyarakat. Ki Slamet sendiri memiliki impian, lahirnya dalang-dalang muda di tengah masyarakat Sawahlunto.

Dalang-dalang yang nantinya akan menjadi pewaris budaya Jawa, yang telah ada turun temurun di kota seluas 275,9 kilometer persegi yang tersebar di empat kecamatan tersebut. Slamet sendiri mengaku siap berbagi ilmu dengan generasi muda yang ingin mendalami ilmu perdalangan. Namun demikian, tentu dengan syarat siap menjadi dalang yang seutuhkan.

Pria yang mengaku hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar itu, setidaknya telah lebih dari 17 tahun mendalami profesi Dalang. Bagi Slamet, Sawahlunto dan wayang sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Katanya, Sawahlunto daerah yang tenang, bebas dari keributan yang sering terjadi di daerah lain.(tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *