Selasa, 12 Desember 2017Fikri, Antara Dunia dan Akhirat - Kabarita.co | Situs Berita Terpercaya SawahluntoKabarita.co | Situs Berita Terpercaya Sawahlunto
Ahmad Fikri Almarwan

Fikri, Antara Dunia dan Akhirat

SAWAHLUNTO – Hingga duduk di kursi sekolah menengah atas, belum satu pun jenjang pendidikan keagamaan yang ditempuhnya. Namun untuk urusan berdakwah, telah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Semenjak duduk di bangku sekolah dasar, kemampuannya dalam urusan dakwah sudah mulai terlihat. Sebut saja lomba da’i cilik atau Pildacil, anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Ridwan dan Wirdanimar ini pernah tampil sebagai juara II di tingkat Sumatera Barat.

“Alhamdulillah, waktu itu masih kelas satu sekolah dasar. Begitu juara pertama di tingkat Sawahlunto, kemudian berhasil meraih juara kedua di tingkat Sumbar,” ujar Ahmad Fikri Almarwan. Remaja kelahiran 1 Maret 1998 itu, yang kini masih duduk di kelas XII SMA Negeri 1 Kota Sawahlunto itu, memiliki sederetan prestasi di bidang keagamaan dan pelajaran umum. Ketika masih menjadi pelajar SMP, penghobi sepakbola yang akrab disapa Fikri itu, sempat menjuarai lomba pidato adat tingkat Sawahlunto.
Hanya saja, ketika itu perlombaan tidak dilakukan berjenjang hingga ke provinsi dan pusat. Masih di bangku pendidikan yang sama, Fikri juga tampil sebagai juara kedua dalam lomba ceramah agama, serta juara ketiga dalam lomba khutbah jumat tingkat Kota Sawahlunto.
Terakhir dalam MTQ Sumbar ke 36, Fikri mempersembahkan medali perak, di cabang khutbah jumat bagi Sawahlunto. Agaknya itu pula yang membuat Fikri mulai dipercaya tampil dari satu mimbar ke mimbar lain setiap jumat.
“Untuk khutbah jumat, memang sudah beberapa kali jumat tampil, berkat kepercayaan salah seorang buya yang membawa saya untuk memberanikan diri menjadi khatib jumat,” ujar Fikri.
Selain itu, di bidang umum, Fikri juga meraih juara kedua dalam olimpiade saint tentang kebumian dan geosaint, yang juga bagian dari
ketertarikannya dalam mempelajari alam semesta.
Ketertarikannya akan kebumian dan geosaint sendiri, mendorongnya untuk terus belajar dan menimba ilmu, yang ingin diwujudkannya. Salah satunya, dengan usahanya saat ini dalam mengincar jurusan teknik geologi UGM Jogjakarta.
Ketua Seksi Berbangsa Bernegara OSIS SMA Negeri 1 ‘Kota Arang’ itu mengungkapkan, semangatnya mendalami ilmu agama dan melakukan dakwah, tidak terlepas dari dorongan kedua orang tua.
Ridwan, sang ayah juga merupakan buya, yang hampir setiap saat tampil memberikan ceramah. Begitu juga dengan sang ibu, Wirdanimar, seorang guru agama yang memberikan bimbingan agama islam.
Kalau untuk tampil sebagai penceramah, Fikri justru telah memulainya ketika masih duduk kelas VII SMP di tahun 2011. Awalnya menjadi pembuka dalam ceramah ramadan, dalam jadwal ceramah sang ayahnya.
Tetapi, semenjak tiga tahun belakangan, Ketua Remaja Mesjid Al Munawwarah Muhammadiyah Aur Mulyo itu, meski tidak penuh selama ramadan, namun sudah memiliki jadwal sendiri di beberapa mesjid dan mushalla.
Bagi Fikri, mendalami ilmu agama dan tampil berdakwah, tidak hanya
memberikan kepuasan baginya. Namun, penampilannya sebagai pendakwah juga memberikan kebanggaan bagi orang tua. “Jika kedua orang tua bisa bangga, tentu mereka akan sangat bahagia. Itulah salah satu tujuan hidup saya, membahagiakan orang tua,” ungkapnya.
Fikri mungkin segelintir dari mereka yang kini berusia remaja, yang mau mendalami ilmu agama di luar pelajaran umum yang tengah dipelajari. Dalam perkembangan teknologi yang sedemikian hebat, kaum remaja justru sering kali hanyut, tidak berdaya mengendalikan perkembangan yang ada.
Menurut Fikri, perkembangan teknologi yang sedemikian hebat tidak dapat dibatasi. Sebab, perkembangan teknologi juga sangat dibutuhkan dalam mempermudah berbagai pekerjaan manusia. “Remaja hari ini memang harus sangat hati-hati, jika tidak teknologi yang ada akan membawa dan menenggelamkan. Jangan sampai teknologi yang menguasai dan mengendalikan kita. Tetapi sebaliknya, kita yang mengendalikan,” ujarnya.
Fikri memang tidak mau memilih jenjang pendidikan keagamaan sejenis pesantren. Ia cenderung ingin mempelajari ilmu umum. Bukan tanpa alasan, baginya untuk menjadi pendakwah bukanlah harus menjadikannya profesi.
Hal itu menurutnya, akan memberikan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Untuk dunia, dirinya harus berkerja. Sedangkan untuk akhirat, Fikri akan terus berusaha untuk berdakwah.(tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *