Selasa, 12 Desember 2017Anasrullah, Perantau Sukses Lumindai - Kabarita.co | Situs Berita Terpercaya SawahluntoKabarita.co | Situs Berita Terpercaya Sawahlunto
Anasrullah Lumindai

Anasrullah, Perantau Sukses Lumindai

Di balik setiap nama, ternyata menyimpan cerita kisah tersendiri. Sukses yang dirasakan hari ini, menyimpan kisah beragam, yang penuh lika-liku perjalanan yang harus dilalui dalam mencapai titik sukses itu sendiri.

Begitu pula kisah panjang yang musti dilalui salah seorang perantau asal Nagari Lumindai Kota Sawahlunto bernama Anasrullah, yang kini telah memiliki lebih dari seratus karyawan, tersebar di berbagai toko, kios dan ruko yang dimilikinya.

Tiga puluh dua tahun lalu, pria bernama Anasrullah ini bukanlah siapa-siapa. Ia hanya seorang penjual ikan asin di salah satu sudut Pasar Kerawang Jawa Barat. Ketika itu, usianya masih beranjak remaja, Ia memberanikan diri mengadu peruntungan berjuang di tanah rantau.

Anasrullah mengenang, ketika dirinya masih dalam kandungan, sang ayah telah tiada dipanggil menghadap yang Maha Kuasa. “Waktu itu saya masih dua bulan dalam kandungan, ayah sudah dipanggil Allah SWT,” kenang Anasrullah yang hanya diasuh sang ibu bernama Liana.

Karena ketidakberadaan ekonomi keluarganya, putra Malai itu, usai menamatkan sekolah dasar di Lumindai tahun 1968 silam, pria kelahiran 1959 itu, memilih berkelana ke berbagai kota dan kabupaten yang ada di Sumatera Barat.

Mulai dari Kota Solok, Maninjau Kabupaten Agam, Kota Padang, hingga Kota Payakumbuh pernah ditempuhnya dengan berbagai pekerjaan demi memenuhi kebutuhan hidup. Baik sebagai pekerja lepas, buruh kasar, hingga menjadi penjaga kebun kopi.

Belasan tahun berkelana di kawasan Sumatera Barat, bungsu dari lima saudara itu, memberanikan diri berangkat ke Pulau Jawa. Dengan bekal uang Rp5 ribu di kantong, Kerawang menjadi tujuannya.

“Begitu sampai di Karawang, saya mengawali pekerjaan dengan menjadi penjual ikan asin. Sebab itu menjadi satu-satunya pilihan terbaik, yang cepat memutar uang,” terang Anasrullah mengawali kisahnya.

Enam bulan berselang, dengan keberanian dan kejujuran yang dimiliki, Anasrullah remaja minjam modal sebesar Rp50 ribu ke salah seorang saudaranya, Ia pun banting setir berjualan imitasi.

Kejujuran memberikan berkah tersendiri, dalam tempo satu tahun terkumpul modal sebesar Rp900 ribu. Kala itu tahun 1984, uang senilai 900 ribu rupiah terbilang sangat besar. Ia pun mulai mengontrak toko sederhana.

Jika semula hanya berjualan imitasi, di toko sederhananya itu, Anasrullah menambah dagangannya dengan berjualan sandal. Semangat Anasrullah yang masih lajang terus diiringi rezeki dari Allah SWT.

Pertengahan 1987, Anasrullah mempersunting istri tercintanya Hj. Ramadana, wanita Lumindai yang kini mengiringi dan saling berbagi tugas dengannya dalam mengembangkan berbagai usaha yang ditekuninya.

Dari keuntungan yang kemudian diputar menjadi modal, Ia kembali mengambil sebuah toko di kawasan Pasar Johar karawang. Kali ini, toko barunya tersebut dibuka dengan usaha berjualan kain.

“Konveksi istilah orang sekarang. Dengan keyakinan rezeki dari Allah SWT, saya beranikan diri membuka usaha dengan berdagang kain. Alhamdulillah, ketika negara terguncang krisis moneter, saya diberikan kesempatan untuk membuka konveksi di Bandung,” ujarnya.

Pertengahan 1998, Anasrullah melebarkan sayap usahanya dengan membuka usaha konveksi, yang dipusatkan di Kota Bandung dengan membeli 2 toko. Kini, dua toko konveksi di kota hujan itu telah memiliki 18 karyawan.

Toko yang dimiliki bapak enam anak itu, tersebar di Pasar karawang, ruko di Grand Plaza Galu Mas Karawang, Pasar Johar Karawang, dua toko di Pasar Tegal Gubuk, serta gedung olahraga badminton, dengan dua fasilitas lapangan di kawasan Johar Karawang.

Dari seluruh toko, ruko dan gedung olahraga yang dimilikinya tersebut, setidaknya lebih dari 100 karyawan menggantungkan kehidupan melalui berbagai usaha yang digarap dan dikembangkan Anasrullah.

Dalam mengembangkan usahanya, Anasrullah memiliki kiat khusus. Dalam merantau, Ia memang prinsip ‘Pokok Padang Jan Dijua’. Baginya menjaga kepercayaan dengan kejujuran merupakan prinsip dasar.

“Kalau uang bisa habis dan dapat dicari. Sedangkan kepercayaan, tidak akan dapat dipulihkan. Kalau orang percaya dengan kita, apapun bisa kita dikembangkan. Bisa dengan meminjam, ataupun membayar barang setelah dijual,” terangnya.

Selain kepercayaan, kejujuran, menurut Anasrullah, pengalaman di lapangan juga menjadi modal utama baginya dalam mengembangkan usaha. Dengan pengalaman yang dimilikinya, para perantau Lumindai yang berada di Karawang dan sekitarnya, mempercayakan anasrullah untuk memiliki paguyuban Ikatan Keluarga Lumindai Sekitar (IKLS).

Setidaknya semenjak 2007 lalu hingga saat ini, Anasrullah didaulat menjadi ketua IKLS, yang memiliki lebih dari 3 ribu perantau berikut keturunan yang tumbuh dan besar di perantauan Karawang dan sekitarnya.

Tidak hanya sampai disitu, dalam menopang permodalan anggota IKLS, Anasrullah bersama beberapa pengurus dan perantau yang ada, di awal 2009 mendirikan koperasi, yang bergerak di bidang simpan pinjam.

Saat ini, dengan koperasi yang memiliki 200 keanggotaan tersebut, sudah bisa memberikan pinjaman hingga Rp12 juta. Dalam perkembangannya semenjak 6 tahun lalu, koperasi IKLS telah menghimpun asset senilai lebih dari Rp2 miliar.

“Target kami, semua perantau yang ingin mengembangkan usaha tidak terjerat dengan lintah darat. Dan Alhamdulillah, saat ini sudah tidak ada perantau Lumindai yang berurusan dengan lintah darat,” ujarnya.

Setiap bulan perantau yang terbagi dalam enam suku melakukan pertemuan bulan. Sedangkan di level IKLS, perantau menggelar pertemuan dalam 3 bukan sekali.

Anasrullah mengaku, para perantau sangat ingin berbuat untuk kampung halaman. Salah satunya dengan membantu berbagai kegiatan pendidikan dan keagamaan yang diselenggarakan sanak saudara di kampong halaman.

Kini, di usianya yang 55 tahun, salah satu putra terbaik Nagari Lumindai itu, telah menjadi perantau sukses. Tidak hanya bagi dirinya, namun juga para perantau Lumindai yang bergabung dalam IKLS.(*/Fadil)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *