Senin, 23 April 20184 Tahun, Tujuh Kampung Produktif Berdiri - Kabarita.co | Situs Berita Terpercaya SawahluntoKabarita.co | Situs Berita Terpercaya Sawahlunto
Bahan Baku MInyak Atsiri

4 Tahun, Tujuh Kampung Produktif Berdiri

BALAI BATU SANDARAN – Meski tidak pernah dialokasikan secara khusus dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Sawahlunto, program Kampung Produktif yang digerakan dengan memadupadankan kegiatan organisasi perangkat daerah (OPD), kini terus dikembangkan.

Setidaknya tujuh Kampung Produktif telah berdiri semenjak program yang bermula dari kunjungan akhir pekan kepala daerah ke pemukiman warga itu, sejak 2014 lalu. Melalui program Kampung Produktif itu, Sawahlunto mengubah wajah kawasan yang semula kantong-kantong kemiskinan menjadi daerah produktif dan mandiri.

Program yang telah berjalan sejak empat tahun terakhir itu, menjadikan ru­mah-rumah di Kampung Pro­duk­tif tidak hanya sebagai tempat tinggal. Melainkan juga berfungsi sebagai tempat untuk ber­pro­duksi, sehingga setiap rumah tangga dalam satu kawasan men­jadi produktif.

Semenjak dicanangkan, kini telah ada tujuh kawasan yang berhasil ditingkatkan marwahnya menjadi kampung produktif. Kampung Luak Badai menjadi kampung pertama yang didorong menjadi kampung produktif.

Luak Badai awalnya ditem­pati 60 kepala keluarga yang bisa dikategorikan kurang mampu, dengan rumah sederhana seluas 24 meter persegi. Di sanalah, 60 keluarga kurang mampu memu­lai menata hidup mereka.

Melalui program kampung produktif, Pemerintah Sawa­h­l­un­to membangun kawasan Luak Badai. Dengan melengkapi sara­na prasarana, ekonomi produktif, dan kehidupan sosial keagamaan.

Pembangunan sarana prasa­rana meliputi jalan, riol, fasilitas pendidikan, hingga rumah iba­dah. Sedangkan untuk perekono­mian, setiap rumah tangga diberi­kan pelatihan keterampilan.

Mulai dari keterampilan kera­ji­nan tenun songket Silungkang dan keterampilan yang terkait hobi serta kemauan warga se­tempat.

Kini kawasan Luak Badai yang semula warga kurang mam­pu, berkurang hingga tinggal belasan keluarga saja, yang bera­da di garis kurang mampu. Luak Badai merupa­kan kawasan yang dibangun ta­hun 2011, melalui kerja sama dengan Kementerian Sosial RI.

Berselang satu tahun, program Kampung Produktif dilanjutkan ke Dusun Kayu Gadang Desa Santur. Di kawasan yang ditempati keluarga miskin dengan jumlah hampir 215 kepala keluarga itu, dikembangkan industri rumah tangga, berupa produksi kerajinan songket, sepatu, sendal, serta pemanfaatan tanaman pekarangan.

“Kampung produktif fokus untuk menggerakan setiap rumah tangga yang ada di kawasan tersebut menjadi produktif dan mandiri. Rumah tidak hanya sebagai tempat tinggal namun memiliki nilai ekonomi,” ungkap Kepala Barenlitbangda Sawahlunto, Andy Rastika.

Didampingi Kepala Bidang Perekonomian, Tatang Sumarna, Andy Rastika mengungkapkan, secara keseluruhan, pihaknya mentargetkan tumbuhnya sembilan Kampung Produktif. Hingga saat ini telah berdiri menuju mandiri tujuh kampung produktif.

Kampung Produktif ketiga yakni Desa Rantih dikembangkan 2016 lalu, dengan konsep agro wisata, dengan mengembangkan produk kerajinan berbahan baku lokal, yang disandingkan dengan pengembangan Rantih sebagai Desa Wisata.

Secara bertahap, saat ini sudah mulai tumbuh kerajinan dengan bahan baku lokal dengan memanfaatkan tempurung kelapa menjadi tas, dompet, serta pajangan, yang kini dikembangkan dua kelompok pengerajin dengan melibatkan 16 kepala keluarga.

Masih dalam 2016, Pemerintah Sawahlunto kembali menggerakan Kampung Produktif di dua dusun di Desa Sikalang, dengan menjadikan Sikalang yang memiliki kawasan padat penduduk yang minim potensi menjadi kawasan industri rumah tangga berbasis konveksi.

Kini Desa Sikalang memiliki dua kelompok industri rumah tangga konveksi, dengan melibatkan sedikitnya 26 rumah tangga.

Sementara itu sepanjang 2017, Pemerintah Sawahlunto menjadikan dua kawasan sebagai Kampung Produktif. Mulai dari Dusun Pintu Angin Desa Tumpuk Tangah, dengan industri rumah tangga, berupa kerajinan anyaman bambu.

Produk yang dihasilkan mulai dari katidiang, nyiru, sanggan, hingga wadah tissu, yang melibatkan 45 pengerajin anyaman bambu. Target yang diinginkan dengan menjadikannya Kampung Produktif, yakni untuk meningkatka mutu dari hasil kerajinan yang diproduksi.

Kepala daerah sendiri waktu itu, menginginkan produk kerajinan anyaman bambu dapat dikawinkan dengan kerajinan tenun songket Silungkang. Anyaman sebagai wadah atau pembungkus dari kerajinan songket Silungkang.

Sedangkan untuk Kampung Produktif Pasar Kubang, dikembangkan dengan mengangkat potensi lokal yang ada, yakni produk kerajinan industri rumah tangga berupa kerupuk ubi Kubang dan songket Silungkang.

Untuk Kampung Produktif Pasar Kubang yang disebut sebagai Kampung Produktif Perempuan itu, melibatkan sedikitnya 133 rumah tangga. Kubang sendiri, selain dikenal dengan duriannya, juga terkenal dengan kerupuk ubinya.

Kampung Produktif ketujuh diresmikan akhir Januari 2018 lalu, yakni Desa Balai Batu Sandaran, dengan konsep industri agro, yakni pengembangan produk atsiri dan tenun songket Silungkang.

Khusus untuk atsiri Balai Batu Sandaran satu-satunya kawasan di Kota Sawahlunto yang memiliki potensi tersebut, dengan 85 hektar lahan yang telah ditanami dari 140 hektar lahan yang ditargetkan.

Setidaknya dalam sepekan, tiga kelompok penyuling atsiri menghasilkan hampir 300 kilogram minyak, dengan harga yang mencapai Rp525 ribu per kilogramnya. Hanya saja, kondisinya lahan-lahan yang ada sudah harus memasuki masa peremajaan.

Sampai saat ini, terang Tatang Sumarna, bahan baku menjadi kendala utama yang dihadapi kelompok pengelola atsiri, sehingga untuk meningkatkan produksi, harus mencari bahan baku hingga ke Solok dan Tanah Datar.

Masih di 2018, Pemerintah Sawahlunto mentargetkan berdirinya dua Kampung Produktif lainnya, yakni Desa Muara Kelaban dan Bukit Gadang. Khusus Desa Muara Kelaban dengan Dusun Sawah Taratak, konsepnya akan dijadikan sebagai Kampung Sate, dengan melibatkan lebih dari 156 kepala keluarga.(Alf)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *