Senin, 23 April 20182,01 Persen, Sawahlunto Terkecil Kedua Nasional - Kabarita.co | Situs Berita Terpercaya SawahluntoKabarita.co | Situs Berita Terpercaya Sawahlunto
Persentase Kemiskinan Kota Sawahlunto

2,01 Persen, Sawahlunto Terkecil Kedua Nasional

A YANI – Persentase angka kemiskinan di Kota Sawahlunto terus mengalami perbaikan. Jika lima tahun lalu, 2013 di posisi 2,28 persen, kini di 2017 persentase kemiskinan di kota berpenduduk 65 ribu jiwa lebih itu, turun ke 2,01 persen.

Secara berturut-turut, setelah 2013 dengan 2,28 persen, tahun 2014 persentase kemiskinan turun ke 2,25 persen. Setahun berikutnya, 2015 persentase kemiskinan Kota Tambang Berbudaya itu kembali turun ke posisi 2,22 persen.

Sedangkan di 2016, meski hanya bergerak 0,01 persen, persentase kemiskinan terus mengalami perbaikan ke posisi 2,21 persen. Sedangkan untuk tahun 2017, persentase kemiskinan mengalami perbaikan yang signifikan ke posisi 2,01 persen.

Dengan angka persentase 2,01 tersebut, secara nasional mengantarkan Kota Sawahlunto pada posisi kedua, sebagai kota dengan persentase kemiskinan terkecil setelah Kota Tanggerang Selatan.

Sementara di posisi ketiga ditempati Kota Badung dengan angka 2,06 persen, yang disusul Kota Denpasar dengan persentase 2,27 persen di posisi keempat. Artinya, untuk ukuran Pulau Sumatera, Sawahlunto menjadi kota dengan persentase kemiskinan terkecil pertama.

“Perbaikan angka kemiskinan itu merupakan sebuah lompatan besar, yang dihasilkan dari rangkaian kegiatan pembangunan sepanjang 2017,” ungkap Sekretaris Daerah Kota Sawahlunto, Rovanly Abdams, di sela-sela pelaksanaan Musrenbang Kota Sawahlunto tahun 2019, Rabu (28/3).

Perbaikan persentase kemiskinan yang terus bergerak ke arah positif itu, menurut Rovanly, tidak terlepas dari kebijakan kepala daerah, yang menerbitkan surat edaran, dimana setiap organisasi perangkat daerah (OPD) hingga desa untuk melibatkan setiap rumah tangga miskin dalam melaksanakan proses pembangunan, yang mampu menjadi penggerak ekonomi kerakyatan.

Dari kebijakan yang tertuang dalam surat edaran itu, terang pria penghobi trabas dan mobil antik itu, setidaknya setiap kegiatan pembangunan, baik dalam bentuk pelatihan maupun padat karya, melibatkan 25 persen keluarga dari rumah tangga miskin.

Secara tidak langsung, peluang kerja dan pengembangan program pembangunan yang melibatkan keluarga miskin itu, mengangkat perekonomian keluarga miskin yang ada. Dampaknya, terjadi perbaikan terhadap ekonomi keluarga miskin, hingga menjadi keluarga sejahtera.

Yang tidak kalah pentingnya, lanjut putra Nagari Kubang itu, keinginan dan semangat masyarakat dalam mengikuti berbagai program yang diluncurkan pemerintah, menjadi faktor pendorong terwujudkan perekonomian keluarga.

Rovanly melihat, program pemanfaatan lahan pekarangan yang diusung para kader PKK dan Dasawisma, memberikan kontribusi. Begitu juga dengan program Kampung Produktif yang telah diterapkan pada tujuh titik pemukiman masyarakat.

Pemerintah Sawahlunto memang terus berupaya melakukan berbagai pengembangan perekonomian. Mulai dengan membuka ruas jalan sentra produksi, pelatihan beragam kerajinan masyarakat.

Salah satunya dapat dilihat dari peningkatan industri kerajinan tenun songket Silungkang. Dengan program pelatihan yang mentargetkan pertumbuhan 50 pengerajin setiap tahunnya, sektor itu telah mampu memutar omset hingga puluhan miliar rupiah.

Dari catatan empat tahun terakhir, mulai 2014 Sawahlunto memiliki 718 pengerajin, yang mampu memproduksi 59.820 pisc tenun songket. Dari total produksi tersebut, mampu memutar nilai produksi hingga Rp8,94 miliar.

Untuk mendapatkan omset tersebut, para pengerajin membutuhkan nilai bahan baku mencapai Rp5,73 miiar. Berselang satu tahun, 2015 pengerajin tumbuh menjadi 748 orang, dengan angka produksi mencapai 62.126 pisc, dan total nilai produksi mencapai Rp11,58 miliar, sementara nilai kebutuhan bahan baku mencapai Rp6,12 miliar.

Sedangkan tahun 2016, jumlah pengerajin kembali tumbuh ke angka 796 pengerajin, dengan kemampuan produksi mencapai 70.224 pisc, yang memutar omset mencapai Rp19,9 miliar, sedangkan kebutuhan bahan baku di angka Rp8 miliar.

Sedangkan tahun 2017 lalu, jumlah pengerajin mengalami peningkatkan yang lumayan besar, mencapai 877 pengerajin, dengan total produksi 75.612 pisc. sedangkan nilai omset produksi mencapai Rp24,02 miliar.

Menurut Rovanly Abdams, program ekonomi kerakyatan akan terus diusung dalam setiap program pembangunan, termasuk dalam Musrenbang Kota Sawahlunto tahun 2019, yang akan menjadi cikal bakal Rancangan APBD Sawahlunto tahun 2019 mendatang.(ril)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *